Dengan demikian, tercipta siklus ekonomi sirkular yang menghubungkan sektor energi, pertanian, dan peternakan.

Sumber bahan baku biogas berasal dari sapi milik warga penerima manfaat sendiri. Skema ini menjadikan pengelolaan energi berbasis komunitas, dikelola bersama dan hasilnya kembali dirasakan masyarakat.

Bupati Sinjai, Ratnawati Arif, mengapresiasi inisiatif tersebut dan menilai program biogas membawa manfaat nyata bagi masyarakat desa.

“Program ini menurut saya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam menyediakan akses energi memasak yang lebih ramah lingkungan serta meningkatkan kualitas lingkungan desa,” ungkap Ratnawati.

Menurutnya, pemanfaatan limbah ternak menjadi energi dan pupuk organik turut mendorong kemandirian energi sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa.

General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk menciptakan dampak berkelanjutan dengan mengedepankan aspek keselamatan dan ketahanan energi.

“Melalui TJSL PLN Peduli, kami meninjau berbagai jenis energi terbarukan yang aman, bersih, ramah lingkungan, dan berbasis pada berbagai sumber daya yang berkelanjutan. Biogas di Dusun Bakae ini menjadi contoh nyata bagaimana limbah ternak dapat diubah menjadi sumber energi bersih serta memberikan dampak langsung bagi ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengembangan program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan energi alternatif, tetapi juga perluasan manfaat bagi lebih banyak rumah tangga di masa mendatang.

Dengan hadirnya Program Biogas Kampung Energi Terpadu, warga Dusun Bakae kini mulai merasakan transformasi dari limbah menjadi berkah. Energi yang lahir dari kandang sapi tidak hanya menyalakan dapur, tetapi juga menumbuhkan harapan akan desa yang lebih mandiri, hemat, dan berkelanjutan. (*)

YouTube player